Selasa, 02 Maret 2010




Mengungkap Akar Kerusuhan Sampit (1)

Madura Sempat Dua Hari Kuasai Kota



Bahari, Sampit
Kerusuhan Sampit dengan korban ratusan jiwa ternyata hanya bermula
dari
perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak
warga
Dayak dan Madura. Perkelahian siswa itulah,
yang kemudian memicu konflik antarkeluarga, antaretnis, hingga
pembantaian
sampai pengusiran puluhan ribu warga Madura.

Anak polah, bapa kepradah. Pepatah Jawa yang berarti anak berbuat,
orang
tua
ikut terlibat ini terjadi atas diri keluarga Matayo. Warga asal Madura
yang
sudah lama tinggal di Baamang, Sampit, ini tak terima
anaknya berkelahi dengan anak warga Dayak. Tapi, keterlibatan Matayo
atas
perkelahian anaknya ini malah memicu kegeraman warga dayak. Lalu,
dibuatlah
perhitungan. Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 (18 Februari)
sekelompok
pemuda Dayak menyerang dan membunuh Matayo. Tiga orang anggota
keluarganya
ikut tewas.
Itu versi warga Madura. Versi warga Dayak agak berbeda lagi. Mereka

Itu versi warga Madura. Versi warga Dayak agak berbeda lagi. Mereka
bilang,
ksekusi terhadap Matayo dan keluarganya terjadi karena yang
bersangkutan
sering melakukan tindak kriminal. Warga setempat pun jengkel karena
sering
dirugikan. Hanya empat jam, eksekusi Dayak terhadap Matayo ini
menyebar.
Warga Madura tak bisa menerima. Sejumlah warga pendatang ini lantas

menyatroni ++++++++ Ketua Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak,
Seruyan
Tengah, untuk membalas dendam.
Lengkap dengan berbagai senjata, warga Madura ini minta +++++Iniel
menyerahkan pembunuh Matayo yang bersembunyi di rumahnya. Mereka
mengancam
akan membakar kalau pelaku tidak diserahkan.
Tapi, 39 orang di dalam rumah Iniel tidak keluar. Warga Madura mulai
tidak
sabar. Mereka melemparkan apa saja ke pagar dan kaca rumah. Bahkan,
ada
yang
berusaha membakar rumah. Mendengar ribut-ribut, polisi datang, lalu
mengamankan 39 orang yang ada di rumah Iniel. Sebagian memang mengaku
membunuh Matayo. Tapi, warga Madura tidak puas dan mengarahkan
amarahnya
ke
warga Dayak yang lain. Beberapa rumah warga Dayak dibakar. Nasib
dialami Jihan atau Seyan, seorang purnawirawan TNI AD. Seyan beserta

ketujuh anak dan cucunya yang kabarnya masih kerabat Iniel dibakar
hidup-hidup dalam rumahnya. Sejak hari itu, warga Madura menguasai
Sampit.
Dengan mengacung-acungkan senjata, puluhan warga Madura pawai
keliling
kota. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai roda dua sampai
roda
empat.
Mereka tak hanya berpawai. Setiap bertemu warga Dayak, mereka mengejar
dan
membunuhnya. Sedikitnya, sepuluh rumah dibakar. ++++++ Tujuh orang
tewas
saat warga Madura menguasai Sampit.
Bahkan, seorang ibu muda hamil tujuh bulan ikut dibunuh dengan dirobek
perutnya. "Itu fakta," kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal
Sungai
Samba.
Situasi itu membuat Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam total.
Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berlangsung
sporadis.
Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan rumah jabatan
bupati
sampit. Tapi, kemudian dialihkan ke kantor bupati.
Yang mengungsi bukan hanya warga Madura. Juga Dayak dan Cina. Mereka
berdesak-desakan mengungsi. Ini terjadi karena mereka belum tahu betul
siapa
yang menguasai jalanan di Sampit malam itu:
Madura atau Dayak. Di pengungsian, Madura dan Dayak malah rukun.
"Saya
saat
itu ikut mengungsi,’ ujar seorang wartawan lokal. Untuk
menghadang
orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura melakukan penjagaan di
pertigaan Desa Bajarum yang mengarah kota Kecamatan Kota Besi.
Penjagaan
juga terjadi di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, dan desa-desa
pedalaman
Hilir Mentayan. Selama berpawai itu, warga Madura terus
berteriak-teriak
mencari tokoh Dayak. "Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak?" tantang
mereka. Tak hanya itu, seorang tokoh Madura melakukan orasi lewat
pengeras
suara, "Sampit akan jadi Sampang kedua, Sampit jadi Sampang Kedua".
Mereka juga memasang spanduk: Selamat datang orang Dayak di kota
Sampang,
Serambi Mekkah. "Spanduk itu yang kami cari sekarang," kata Bambang
Sakti.
Bambang juga bilang telah menemukan sejumlah bom di rumah-rumah warga
Madura. "Ini bukan isapan jempol," tuturnya. Sedikitnya, pasukan Dayak
sudah
menyerahkan 300 bom yang ditemukan di
rumah warga Madura. Begitu juga beberapa pucuk pistol. "Tidak tahu
bagaimana
tindak lanjutnya," jelasnya. Kabarnya, bom-bom itu dirakit di Jawa,
lalu
dikirimkan ke Sampit. Tapi, sumber Jawa Pos menyebutkan, bom rakitan
dibuat
di Sampit. Lalu, didistribusikan ke berbagai warga Madura di
kecamatan.
Mereka bilang bom itu untuk mempertahankan diri jika sewaktu-waktu
diserang
warga Dayak. Tapi, karena bom itu pula, 112 warga Madura di Kecamatann
Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini setelah warga Dayak
menemukan
bom di rumah seorang warga Madura.
Melihat aksi penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tak tinggal
iam.
reka lantas membawa bala bantuan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga
Dayak
yang tiba lebih dulu melakukan perlawanan sporadis.
Selasa malam (20 Februari), peta kekuatan mulai berbalik. Warga Dayak
pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya,
seperti
Seuyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito
berdatangan
ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan. Pasukan
Dayak
pedalaman yang rata-rata berusia muda tak lebih 25 tahun membekali
diri
dengan berbagai ilmu kebal. Jumlahnya sekitar sekitar 320 orang.
Pasukan
itu
lalu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya, pusat permukiman warga
Madura. Meski dalam jumlah kecil, kemampuan bertempur pasukan khusus
Dayak
sangat teruji. Buktinya, mereka mampu memukul balik warga Madura yang
terkosentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Dengan ilmu kebal,
mereka
melawan ribuan warga Madura. Bahkan, mereka sanggup menghadapi bom
yang
banyak digunakan warga Madura. Dalam bentrok terbuka, seorang warga
Madura
melemparkan bom ke arah pasukan Dayak. Tapi, bom dapat ditangkap dan
dilemparkan kembali ke arah kerumunan Madura. Meledak. Puluhan warga
Madura
tewas seketika.
Selain kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tidak mempan ditembak.
Mereka
justru memunguti peluru untuk dikantongi. Karena itu, polisi juga
keder.
Sejak itu, mental Madura pun langsung down.
Strategi yang diterapkan warga Dayak dalam serangan balik cukup jitu.
Selain
>asuk lewat Baamang, sekitar empat perahu penuh pasukan dayak tidak
langsung
merapat ke bibir sungai.
Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota
inggir sungai di tepian kota Sampit. Strategi ini untuk menghindari
pengawasan orang Madura. Lantas, secara tiba-tiba, mereka muncul dan
menyerang permukiman Madura.
Madura pun dibuat kocar-kacir. Pasukan Dayak pedalaman terus bergerak
ke
kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau
dikenal Jalan Gatot Subroto, dan S. Parman. Rumah tokoh Ikatan
Keluarga
Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan
tak
luput dari sasaran. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang
terbunuh. Sebagian lari. Sejumlah becak bekas dibakar berserakan di
halaman
rumah yang hancur.
ah tokoh Madura lain seperti Haji Satiman dan Haji Ismail juga
dihancurkan. Tidak terkecuali rumah Mat Nabi yang dikenal sebagai
jagonya
Sampit. Padahal, rumah tokoh-tokoh Madura yang berada di Sampit,
Samuda,
maupun Palangkaraya tergolong cukup mewah. Serangan pasukan inti Dayak
kemudian diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari rumah dan warga di
sepanjang kota Sampit. Ratusan warga Madura dibunuh secara
mengenaskan,
lalu
dipenggal kepalanya.
Hari-hari berikutnya gelombang serangan suku Dayak terus berdatangan.
Bahkan, sebelum menyerang, seorang tokoh atau panglima Dayak lebih
dulu
membekali ilmu kebal kepada pasukannya. Karena itu, saat melakukan
serangan, biasanya mereka berada dalam alam bawah sadar.
Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan
orang
Madura dan non-Madura. "Dari jarak sekitar 200 meter, baunya sudah
tercium,"
++++ ujar
Itu tak berlebihan. Saat ada evakuasi, di tengah jalan seorang warga
Madura
disusupkan. Dia dikelilingi warga non-Madura. Sebelum masuk ke loksi
penampungan, mereka kena sweeping Dayak. Meski orang itu
ada di tengah pengungsi, masih juga tercium dan disuruh turun. Tanpa
ampun,
laki-laki tadi dibantai.
Agar serangan ke perkampungan Madura terkendali, para komando warga
Dayak
menggunakan Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan, di
hotel
itulah pasukan diberi ramuan ilmu kekebalan oleh para panglima. Saat
digerebek, aparat menemukan beberapa kepala manusia. Tapi, para
tokohnya
sempat meloloskan diri. Kini, di depan hotel bertingkat dua itu
dibentangkan
police line.
Berada di atas angin, pasukan Dayak lalu melebarkan serangan ke
berbagai
kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Sasaran pertama, Samuda, ibu kota
Kecamatann Mentaya Hilir Selatan, dan Parebok yang banyak dihuni warga
Madura. Samuda dan Parebok jadi sasaran setelah Sampit karena banyak
tokoh
Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok juga ada Ponpes Libasu Taqwa.
Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini juga dijadikan tempat berlindung
banyak warga Madura.
Warga Madura di kecamatan lain pun tidak lepas dari buruan. Misalnya,
Kuala
Kuayan. Ratusan korban jatuh dengan kepala terpenggal. Kini, warga
Dayak
praktis menguasai hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kecuali
Pangkalan Bun. Kota ini aman karena hampir tak ada warga Madura yang
tingga
di semua kota kecamatan. Penghuninya, saat itu, banyak yang lari
myelamatkan diri ke hutan, +++++ baik Palangkaraya, Sampit, maupun
Samuda.
..........



+++++++++++++++++++
Sebenarnya, jauh sebelum kasus Sampit mencuat, sekitar 118 kilometer
ke
arah
Palangkaraya, tepatnya di Desa Kerengpangi, Kecamatan Katingan Hilir
terjadi
pembantaian tokoh pemuda Dayak setempat. Namanya, Sendung. Tepatnya,
di
lokalisasi WTS Kerengpangi.
Pada dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB (16 Desember 2000). Sendung
datang
ke lokasi perjudian. Saat itu ,ada tiga warga Madura Mat Sura, Kacung
dan
Mat Suki sedang main judi dadu gurak.
Sebenarnya, antara Sendung dan ketiga warga Madura itu sudah saling
kenal.
Sendung dikenal sebagai tokoh pemuda Dayak yang disegani. Sedangkan
tiga
Madura tadi dikenal sebagai penguasa lokalisasi.
Tiba-tiba, tangan Sendung menyenggol badan Mat Sura. Entah dipengaruhi
minuman atau balas dendam, Mat Sura tidak terima. Cekcok lantas tak
bisa
dihindari. Emil, pemuda Dayak, saat itu berusaha melerai. Tapi, tak
dihiraukan. Mereka tetap saja cek cok. Kacung, salah satu teman Mat
Sura
pulang ke rumah sekitar 75 meter dari lokasi semula untuk mengambil
celurit.
Begitu sampai, tanpa ba bi bu lagi, Kacung membacokan ke tubuh
Sendung.
Sendung yang juga dikenal jagoan berusaha melawan. Tapi, karena
dikoroyok, Sendung pun tersungkur dengan tiga luka bacok. Dada, leher
dan
perut. Sedangkan warga sekitarnya takut melerai. Versi keluarga
Sendung
berbeda. Kepada Jawa Pos, diceritakan bahwa saat itu, Sendung dijemput
beberapa orang ke lokalisasi. Kabarnya, ada judi. Sendung yang selama
ini
getol melarang perjudian dadu gurak di wilayahnya datang. Tapi, Dewi,
istri
Sendung sudah membaca sepertinya ada rekayasa penciptaan suasana agar
ada
bentrokan. "Makanya, begitu warga Madura tersenggol langsung cek cok,"
jelas
salah satu keluarga Sendung.
Esoknya, warga Dayak geger. Mereka pun ramai-ramai mencari tiga warga
Madura
yang membunuh Sendung. Tapi, ketiganya sudah lolos. Untuk melampiaskan
kekesalnya, warga dayak membakari rumah karaoke, tempat perjudian,
warung
makan dan rumah. Saat itu, ada sekitar 16 rumah ludes dilalap api.
Lokalisasi itu sebetulnya milik Akong. Namun, pengelolaannya
sehari-hari
dipercayakan kepada tiga warga Madura tesebut. Kini, Akong melarikan
diri
setelah terjadi insiden itu. Warga makin dongkol karena polisi
>sepertinya
membiarkan pelakunya lolos. Bahkan, mereka mendengar kabar kalau sudah
abur
ke Pulau Madura. Kedongkolan warga Dayak makin memuncak karena itu
bukan
kasus yang pertama.
Setiap kali, ada warga Madura membunuh warga Dayak selalu lolos dan
lari
ke
Madura. Kalau pun masuk bui tidak lama. Kawan atau keluarganya bisa
menebus.
"Makanya, kekesalan warga Dayak sudah memuncak," kata tokoh Dayak
Sabran
Akhmad kepada Jawa Pos.
rengpanggi sebenarnya hanya dusun kecil di tepi jalan raya Tjilik
Riwut,
Palangkaraya Sampit. Tepatnya, di kilometer 99 jalan Cilik Riwut.
Tapi,
setelah ditemukan tambang emas sekitar tahun 1980-an,
dusun yang sepi mulai menggeliat. Warga luar berdatangan mendulang
emas.
Tidak terkecuali warga
Madura. Apalagi, sekitar tahun 1996 Sjamsul Nursalim lewat PT Ampahit
Mas
Perdana membuka pendulangan emas secara besar-besran.
Dusun yang semula tenang menjadi ramai dengan hadirnya pasar, toko,
karaoke,
mini market, bar, yang dilengkapi lokalisasi WTS. Seiring bertambahnya
warga
yang mendulung emas, angka kriminalitas makin meningkat. Tiada hari
tanpa
perkelahian. Umumnya melibatkan warga Dayak dan Madura. Bahkan,
Perengpangi
biasa disebut Texas-nya Kalteng. Pencurian, perkelahian, perampokan,
perebutan tanah adalah hal bisa di Krengpangi.
Terhadap kenyataan itu, aparat keamanan seakan tak berdaya. Jarang
warga
Madura yang ditangkap akibat tindak kriminalnya. "Kekesalan itu
menjadi
terakumulasi hingga menimbulkan dendam kesumat bagi warga Dayak,"
tandas
Sabran.
Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini
sebagai
Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah
(KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang
merugikan harta dan nyawa orang Dayak.
Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian.
Tapi,
setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. "Paling
tidak
sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama
selalu dilanggar warga Madura," kata Usop saat pertemuan tokoh
masyarakat
Dayak dengan DPRD Kalteng. Bahkan, saat pembuatan jalan
Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit
Batu
tahun 1983. Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh
Dayak
dengan tokoh Madura. Ada satu poin penting dalam perjanjian itu.
Yakni,
Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika
melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali
ada
pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak
berdatangan
ke Kalimantan. "Dokumen itu yanh kini sedang kami cari," tambha Usop.
Tragedi pertumpahan darah di Kalimantan terjadi tahun 1967, pasca G 30
S/PKI. Tragedi itu tak lepas dari ekor G 30 SPKI. Saat itu
pemerintahan
Soeharto menuduh Cina di Kalimantan Barat adalah komunis.
Untuk mengenyahkan Cina komunis, Soeharto menggunakan salah satu etnis
Dayak
untuk membunuh Cina yang komunis dan pendukung Pasukan Gerilyawan
Serawak
(PGRS). Korban pun berjatuhan sebanyak 300 orang. Selebihnya, ratusan
ribu
Cina diungsikan. Setelah itu, bentrokan Dayak tidak dengan Cina, tapi
dengan
Madura. Dayak menuding perilaku warga Madura tak terpuji. Suka
kekerasan,
dan sering melakukan tindakan kriminal yang banyak merugikan warga
Dayak.
Bentrokan kecil dan besar antara dayak dan Madura di Kalimantan Tengah
sejak
1983 sudah terhitung 15 kali. Tapi, selalu berakhir perdamaian.
Sebelum
kasus Kerengpangi dan Sampit, bentrokan besar terjadi tahun 1996 dan
1997
di
Sangauleudo di Kalbar maupun Sambas. Dimana dua warga dayak ditusuk
am,pai
sebnayka 2000 warga Madura diungsikan. (bh)
tewas arang Madura. Kerusuhan pun pecah, sedikitnya 1000 korban
tewas.
Dan

'Kuluk,... Kuluk,... Kuluk...',
Esoknya Semua Tanpa Kepala


BOHONG, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura
yang
tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit.
Hal
ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517.
Dalam
pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa
melihat
puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah
bangunan
rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya
yang
hangus.
Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT
Sempagan
Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada
puluhan
yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan
tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. "Ini baru yang di sungai,
belum
yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak
kurang
dari 200 mayat," katanya.
Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat
yang
bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan
batu
koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk
dimakamkan,
kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari
kejaran
dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur.
Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi
membedakan
siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura,
tapi
kini
semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya
ditebas
lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong.
Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya
lagi.
Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan
senjatanya
disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan
tidak
ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun
tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali
dengan suara kuluk,... kuluk,... kuluk,... sebentar kemudian pasukan
Dayak
muncul dan membunuhi warga Madura.
Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh.
Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara
uluk..., kuluk..., sambung-menyambung muncul dari segala penjuru.
Esoknya
warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi.
Parebuk
Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56),
warga
yang
banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada
di
sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. "Saat ini di
sana
yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak," kata Sopian.
Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai
engatakan,
dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup
lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat
beberapa
warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas
melawan Dayak di Semuda. "Kalau masih hidup seharusnya perjalanan
mereka
tidak lebih dari satu atau dua hari saja," kata Sopian.
Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku
masih
dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp
pengungsian
di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga
Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah
ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.
Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan
geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi
orang
Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman.
Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang
Tengah
semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi
kantor
Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50
Dayak,
Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong
tapi
justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ.
Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang
Polsek
ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300
m
sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia
menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia
pun
bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya.
Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada
peristiwa
yang
sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit.
Sebanyak
4
truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas
dengan
mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2,
akhirnya
dibantai habis Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan dayak
orang Madura disuruh turun dan dibantai. "Jika tiap truk berisi 50
pengungsi
berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai," kata Choiri.
Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak-anak.
egitu
jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa,
justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh
Brimob
> dai Jakarta.
Liar
Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal
di
Jl.
Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini
ikut
pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya,
mengapa
orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang.
Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang
Madura.
Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan
atau
mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia
disuruh
minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya
diolesi
dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud
anjing
dan akhirnya harus diburu dan dibunuh.
Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini
menurut
Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga
mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka
kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah
panglima
perang suku Dayak. (R Dewanto Nusantoro)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar