Selasa, 02 Maret 2010


Pahlawan Islam: Sultan Saladin Panglima Perang Salib
Dia dikenal sebagai raja, panglima perang yang jago strategi, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat “Saladin Sang Raja Mesir” (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, namun tanpa menindas kaum Kristiani.

Sultan Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin)

Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah tahun 1160. Ia sukses dengan misinya yang membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama.

Saladin memperbaiki perekonomian Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militernya, dan mengikuti anjuran ayahnya untuk tidak memasuki area konflik dengan Nur ad Din. Sepeninggal Nur ad Din, barulah ia mulai serius memerangi kelompok Muslim sempalan dan pembrontak Kristen. Dia bergelar Sultan di Mesir dan menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.


Khalid ibn Al-Walid ~ Panglima Perang Islam Tak Terkalahkan
Judul
Bahasa
Categories
Hak Cipta
Rating
link eksternal


Khalid ibn al-Walid (592-642 M)

Khalid ibn Al-Walid adalah salah satu jenderal Arab yang sangat dikenal di awal penaklukan Islam Abad ke-7, tercatat akan kemampuan militernya dalam memimpin pasukan-pasukan Muhammad dan dua Khulafaur Rasyidin pertama, Abu Bakr dan Umar ibn Al-Khattab. Karena ia tidak terkalahkan dalam lebih dari seratus pertempurannya melawan Imperium Romawi Timur dan Imperium Persia, ia dihormati sebagai salah satu panglima militer terbaik sepanjang masa.

Ia lahir sekitar tahun 592 M di Makkah. Khalid terlahir sebagai anggota Bani Makhzum, salah satu klan yang berpengaruh di Makkah dan berperan sebagai andalan di bidang militer. Ketika Islam pertama kali tumbuh di Makkah, ia termasuk golongan mayoritas yang sangat memusuhi Muhammad dan para pengikutnya. Ketika umat Islam Makkah berhijrah ke Madinah, beberapa pertempuran besar berlangsung antara pasukan Makkah dan pasukan Madinah. Ia terlibat dalam Pertempuran Uhud dan Pertempuran Khandaq 'Parit'.

Untuk pertama kalinya ia mempertunjukkan keahliannya dalam bertempur pada Pertempuran Uhud. Ia menjadi panglima pasukan kavaleri kuda Makkah. Dalam kondisi pasukan Makkah yang terdesak, Khalid mampu mengubah keadaan menjadi kemenangan Makkah.

Tahun 628 M, Perjanjian Hudaybiyah disepakati. Perjanjian ini adalah perjanjian gencatan senjata antara Makkah dan Madinah. Setelah perjanjian ini, Khalid masuk Islam. Tiga tahun sejak ia masuk Islam, untuk pertama kalinya ia bergabung dalam pasukan Islam dalam pertempuran yang cukup penting, Pertempuran Mu'tah.

Dalam pertempuran ini, ia menjadi prajurit biasa bersama 3.000 pasukan Madinah lainnya menghadapi sekitar 100.000-200.000 pasukan Romawi Timur. Di tengah pertempuran yang berlangsung selama tujuh hari ini, ia ditunjuk untuk menjadi panglima karena tewasnya tiga panglima: Zayd bin Haritsah, Ja'far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Dengan perannya ini, pasukan Madinah bisa bertahan selama tujuh hari.

Ia mengubah posisi pasukan sayap kanan ke sayap kiri dan begitu juga sebaliknya. Ia lalu membariskan seluruh pasukannya dalam barisan yang amat panjang untuk memberikan kesan jumlah pasukannya lebih banyak. Ia juga memerintahkan pasukannya untuk membuat debu dan pasir beterbangan lebih dari yang seharusnya. Strateginya berjalan cukup sukses dengan timbulnya kewas-wasan dalam hati pasukan Romawi karena mengira pasukan Madinah menerima bantuan. Efek ini muncul karena mereka harus berhadapan dengan wajah baru setiap harinya. Khalid lalu dengan lebih mudah agak mengorientasikan pasukannya untuk selalu mundur sedikit demi sedikit. Pasukan Romawi mengira hal ini adalah jebakan untuk membuat mereka masuk ke gurun pasir Arab yang "kejam". Hari ketujuh, perang berakhir dengan mundurnya kedua belah pihak. Dalam pertempuran ini, Khalid mematahkan sembilan pedangnya yang menunjukkan betapa intensifnya pertempuran antar kedua belah pihak. Karena kepemimpinannya dalam pertempuran ini juga, ia dijuluki SayfUllah 'Pedang Allah'.

Di masa Khalifah Abu Bakr, Khalid diutus memimpin 18.000 dalam Perang Islam-Persia. Perang ini diawali oleh Khalid dengan pengiriman surat kepada Hormuz, Gubernur Persia untuk Mesopotamia. Isi suratnya sangat terkenal seperti yang dicantumkan di bawah ini.
"Masuklah dalam Islam dan kalian akan selamat. Atau bayarlah jizyah, dan Kamu serta rakyatmu akan kami lindungi, jika tidak, Kamu akan menjadi bersalah atas konsekuensinya, karena saya akan datang kepada kalian dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan."
Pertempuran pun harus dilakukan karena Persia tidak mau takluk begitu saja. Empat pertempuran pertama dimenangkan pasukan Kekhalifahan Islam: Pertempuran Rantai, Pertempuran Sungai, Pertempuran Walaja, dan Pertempuran Ullais. Khalid benar-benar memanfaatkan kelemahan pasukan Persia yang sangat lambat karena beratnya persenjataan dan baju perang mereka. Dalam Pertempuran Rantai, ia "mengerjai" pasukan Hormuz dengan membuat mereka bolak-balik antara Kota Uballa dan Kota Kazima beberapa kali. Akibatnya pasukan Persia kelelahan dan Khalid pun memenangkan pertempuran pertamanya melawan Hormuz. Satu bulan kemudian, Hirah, ibukota Mesopotamia, berhasil direbut dan dalam beberapa bulan berikutnya, seluruh Mesopotamia dikuasai oleh Kekhalifahan Islam.

Setelah tugasnya usai dalam tahap pertama penaklukan Persia, ia diutus untuk memimpin pasukan khalifah di front peperangan di barat, Perang Islam-Romawi Timur. Agustus-November 634 M, Umar ibn Al-Khattab menggantikan Abu Bakr sebagai khalifah dan mengeluarkan keputusan yang mengejutkan dengan menurunkan jabatan sepupunya, Khalid, sebagai panglima tertinggi dalam penaklukan Syams. Tidak ada reaksi negatif dari dirinya. Ia terus bertempur.


Pertempuran Yarmuk pun terjadi dan terjadilah kemenangan yang sangat menentukan dan bersejarah. Dengan membariskan pasukannya sepanjang 18 km, Khalid mengawali perang dengan strategi bertahan dan melakukan serangan balik ketika pertengahan hari. Kondisi ini terus berlangsung selama 4 hari. Pada hari kelima, pasukan Romawi mencoba membuat gencatan senjata, tetapi gagal. Pada hari keenam, Khalid mengubah strateginya menjadi penyerangan efektif. Pasukan Romawi kalah pada hari itu juga. Pertempuran Yarmuk merupakan salah satu dari contoh pertunjukan strategi militer brilian yang sangat langka di mana sejumlah pasukan dengan jumlah jauh lebih kecil mampu bertahan, bahkan menang melawan pasukan yang sangat besar jumlahnya.

Umar sekali lagi mengeluarkan kebijakan yang mengejutkan dengan memberhentikan Khalid secara total dari pasukan. Khalid dianggap terlalu berlebihan dengan memberikan ganjaran 10.000 Dirham untuk seorang penyair yang memuji dirinya. Ini dianggap sebuah pemborosan. Tahun 638 M, Khalid pun kembali ke Madinah dan secara normal agak memprotes pemberhentianny. Namun pada akhirnya, Khalid ibn Al-Walid tetap setia pada pemimpin dan agamanya. Ia menerima keputusan pemberhentiannya.

Khalid menjalani sisa kehidupannya di Kota Emesa, Syams. Ia wafat pada tahun 642 M dalam usia 50 tahun. Salah satu kalimat terakhirnya adalah sebagai berikut.
"... Dan di sini aku mati di atas tempat tidurku seperti domba yang mati. Mudah-mudahan mata orang-orang pengecut tidak akan pernah tidur!"
Pernyataannya ini menunjukkan kekecewaannya karena tidak bisa mencapai kematian di medan pertempuran yang merupakan dambaannya. Kuburannya sekarang menjadi bagian dari Masjid Khalid ibn Al-Walid.

Dalam sebuah narasi, dia memiliki bekas-bekas luka dari sejumlah sabetan pedang, tombak, dan panah hampir di semua bagian tubuhnya selain wajah. Orang-orang yang melihat luka-lukanya akan sulit menerka bagaimana ia bisa selamat dari luka-lukanya itu. Kemahirannya dalam bermain pedang dipertunjukkan dalam beberapa duel dalam pertempurannya. Dalam Pertempuran Rantai di Mesopotamia, ia membunuh Panglima Hormuz dalam duel seru yang disaksikan oleh dua belah pihak. Ia juga sangat mampu memanfaatkan pasukan berkudanya jauh lebih efektif dari musuh-musuhnya.

Rekor tidak terkalahkannya dalam pertempuran membuatnya memperoleh tempat yang hampir sejajar dengan Alexander The Great dan Subutai--salah satu panglima perang Jenghis Khan--. Ia sering sekali menggunakan beberapa taktik perang yang sangat cerdas seperti yang pernah ditulis dalam buku The Art of War karya Tsun Zu. Meskipun wilayah taklukannya tidak seluas taklukan Alexander The Great, ia tetap merupakan panglima perang terbaik di zamannya di samping Eulji Mundeok, panglima Korea yang hidup semasa dengannya.

Satu hal yang mungkin tidak bisa dimiliki oleh panglima perang lainnya adalah sifatnya yang jauh dari keangkuhan dan penuh kemurnian tujuan. Hal ini ditunjukkannya ketika menerima dengan penuh kelapangan dada kebijakan khalifahnya yang menurunkan jabatannya dan bahkan memberhentikannya dari pasukan. Sungguh sangat mungkin baginya memberontak pada khalifah karena pasukannya yang sangat mencintai diri jenderalnya. Ia hanya berkata,
"Saya tidak berperang untuk Umar."
Bahkan yang menjadi kekesalannya ketika diberhentikan bukanlah kekesalannya yang harus kehilangan jabatan, tetapi kekesalan karena tidak bisa lagi berperang membela agamanya dan mencapai cita-citanya untuk mati di medan perang.



Mengungkap Akar Kerusuhan Sampit (1)

Madura Sempat Dua Hari Kuasai Kota



Bahari, Sampit
Kerusuhan Sampit dengan korban ratusan jiwa ternyata hanya bermula
dari
perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak
warga
Dayak dan Madura. Perkelahian siswa itulah,
yang kemudian memicu konflik antarkeluarga, antaretnis, hingga
pembantaian
sampai pengusiran puluhan ribu warga Madura.

Anak polah, bapa kepradah. Pepatah Jawa yang berarti anak berbuat,
orang
tua
ikut terlibat ini terjadi atas diri keluarga Matayo. Warga asal Madura
yang
sudah lama tinggal di Baamang, Sampit, ini tak terima
anaknya berkelahi dengan anak warga Dayak. Tapi, keterlibatan Matayo
atas
perkelahian anaknya ini malah memicu kegeraman warga dayak. Lalu,
dibuatlah
perhitungan. Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 (18 Februari)
sekelompok
pemuda Dayak menyerang dan membunuh Matayo. Tiga orang anggota
keluarganya
ikut tewas.
Itu versi warga Madura. Versi warga Dayak agak berbeda lagi. Mereka

Itu versi warga Madura. Versi warga Dayak agak berbeda lagi. Mereka
bilang,
ksekusi terhadap Matayo dan keluarganya terjadi karena yang
bersangkutan
sering melakukan tindak kriminal. Warga setempat pun jengkel karena
sering
dirugikan. Hanya empat jam, eksekusi Dayak terhadap Matayo ini
menyebar.
Warga Madura tak bisa menerima. Sejumlah warga pendatang ini lantas

menyatroni ++++++++ Ketua Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak,
Seruyan
Tengah, untuk membalas dendam.
Lengkap dengan berbagai senjata, warga Madura ini minta +++++Iniel
menyerahkan pembunuh Matayo yang bersembunyi di rumahnya. Mereka
mengancam
akan membakar kalau pelaku tidak diserahkan.
Tapi, 39 orang di dalam rumah Iniel tidak keluar. Warga Madura mulai
tidak
sabar. Mereka melemparkan apa saja ke pagar dan kaca rumah. Bahkan,
ada
yang
berusaha membakar rumah. Mendengar ribut-ribut, polisi datang, lalu
mengamankan 39 orang yang ada di rumah Iniel. Sebagian memang mengaku
membunuh Matayo. Tapi, warga Madura tidak puas dan mengarahkan
amarahnya
ke
warga Dayak yang lain. Beberapa rumah warga Dayak dibakar. Nasib
dialami Jihan atau Seyan, seorang purnawirawan TNI AD. Seyan beserta

ketujuh anak dan cucunya yang kabarnya masih kerabat Iniel dibakar
hidup-hidup dalam rumahnya. Sejak hari itu, warga Madura menguasai
Sampit.
Dengan mengacung-acungkan senjata, puluhan warga Madura pawai
keliling
kota. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai roda dua sampai
roda
empat.
Mereka tak hanya berpawai. Setiap bertemu warga Dayak, mereka mengejar
dan
membunuhnya. Sedikitnya, sepuluh rumah dibakar. ++++++ Tujuh orang
tewas
saat warga Madura menguasai Sampit.
Bahkan, seorang ibu muda hamil tujuh bulan ikut dibunuh dengan dirobek
perutnya. "Itu fakta," kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal
Sungai
Samba.
Situasi itu membuat Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam total.
Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berlangsung
sporadis.
Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan rumah jabatan
bupati
sampit. Tapi, kemudian dialihkan ke kantor bupati.
Yang mengungsi bukan hanya warga Madura. Juga Dayak dan Cina. Mereka
berdesak-desakan mengungsi. Ini terjadi karena mereka belum tahu betul
siapa
yang menguasai jalanan di Sampit malam itu:
Madura atau Dayak. Di pengungsian, Madura dan Dayak malah rukun.
"Saya
saat
itu ikut mengungsi,’ ujar seorang wartawan lokal. Untuk
menghadang
orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura melakukan penjagaan di
pertigaan Desa Bajarum yang mengarah kota Kecamatan Kota Besi.
Penjagaan
juga terjadi di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, dan desa-desa
pedalaman
Hilir Mentayan. Selama berpawai itu, warga Madura terus
berteriak-teriak
mencari tokoh Dayak. "Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak?" tantang
mereka. Tak hanya itu, seorang tokoh Madura melakukan orasi lewat
pengeras
suara, "Sampit akan jadi Sampang kedua, Sampit jadi Sampang Kedua".
Mereka juga memasang spanduk: Selamat datang orang Dayak di kota
Sampang,
Serambi Mekkah. "Spanduk itu yang kami cari sekarang," kata Bambang
Sakti.
Bambang juga bilang telah menemukan sejumlah bom di rumah-rumah warga
Madura. "Ini bukan isapan jempol," tuturnya. Sedikitnya, pasukan Dayak
sudah
menyerahkan 300 bom yang ditemukan di
rumah warga Madura. Begitu juga beberapa pucuk pistol. "Tidak tahu
bagaimana
tindak lanjutnya," jelasnya. Kabarnya, bom-bom itu dirakit di Jawa,
lalu
dikirimkan ke Sampit. Tapi, sumber Jawa Pos menyebutkan, bom rakitan
dibuat
di Sampit. Lalu, didistribusikan ke berbagai warga Madura di
kecamatan.
Mereka bilang bom itu untuk mempertahankan diri jika sewaktu-waktu
diserang
warga Dayak. Tapi, karena bom itu pula, 112 warga Madura di Kecamatann
Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini setelah warga Dayak
menemukan
bom di rumah seorang warga Madura.
Melihat aksi penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tak tinggal
iam.
reka lantas membawa bala bantuan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga
Dayak
yang tiba lebih dulu melakukan perlawanan sporadis.
Selasa malam (20 Februari), peta kekuatan mulai berbalik. Warga Dayak
pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya,
seperti
Seuyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito
berdatangan
ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan. Pasukan
Dayak
pedalaman yang rata-rata berusia muda tak lebih 25 tahun membekali
diri
dengan berbagai ilmu kebal. Jumlahnya sekitar sekitar 320 orang.
Pasukan
itu
lalu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya, pusat permukiman warga
Madura. Meski dalam jumlah kecil, kemampuan bertempur pasukan khusus
Dayak
sangat teruji. Buktinya, mereka mampu memukul balik warga Madura yang
terkosentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Dengan ilmu kebal,
mereka
melawan ribuan warga Madura. Bahkan, mereka sanggup menghadapi bom
yang
banyak digunakan warga Madura. Dalam bentrok terbuka, seorang warga
Madura
melemparkan bom ke arah pasukan Dayak. Tapi, bom dapat ditangkap dan
dilemparkan kembali ke arah kerumunan Madura. Meledak. Puluhan warga
Madura
tewas seketika.
Selain kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tidak mempan ditembak.
Mereka
justru memunguti peluru untuk dikantongi. Karena itu, polisi juga
keder.
Sejak itu, mental Madura pun langsung down.
Strategi yang diterapkan warga Dayak dalam serangan balik cukup jitu.
Selain
>asuk lewat Baamang, sekitar empat perahu penuh pasukan dayak tidak
langsung
merapat ke bibir sungai.
Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota
inggir sungai di tepian kota Sampit. Strategi ini untuk menghindari
pengawasan orang Madura. Lantas, secara tiba-tiba, mereka muncul dan
menyerang permukiman Madura.
Madura pun dibuat kocar-kacir. Pasukan Dayak pedalaman terus bergerak
ke
kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau
dikenal Jalan Gatot Subroto, dan S. Parman. Rumah tokoh Ikatan
Keluarga
Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan
tak
luput dari sasaran. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang
terbunuh. Sebagian lari. Sejumlah becak bekas dibakar berserakan di
halaman
rumah yang hancur.
ah tokoh Madura lain seperti Haji Satiman dan Haji Ismail juga
dihancurkan. Tidak terkecuali rumah Mat Nabi yang dikenal sebagai
jagonya
Sampit. Padahal, rumah tokoh-tokoh Madura yang berada di Sampit,
Samuda,
maupun Palangkaraya tergolong cukup mewah. Serangan pasukan inti Dayak
kemudian diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari rumah dan warga di
sepanjang kota Sampit. Ratusan warga Madura dibunuh secara
mengenaskan,
lalu
dipenggal kepalanya.
Hari-hari berikutnya gelombang serangan suku Dayak terus berdatangan.
Bahkan, sebelum menyerang, seorang tokoh atau panglima Dayak lebih
dulu
membekali ilmu kebal kepada pasukannya. Karena itu, saat melakukan
serangan, biasanya mereka berada dalam alam bawah sadar.
Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan
orang
Madura dan non-Madura. "Dari jarak sekitar 200 meter, baunya sudah
tercium,"
++++ ujar
Itu tak berlebihan. Saat ada evakuasi, di tengah jalan seorang warga
Madura
disusupkan. Dia dikelilingi warga non-Madura. Sebelum masuk ke loksi
penampungan, mereka kena sweeping Dayak. Meski orang itu
ada di tengah pengungsi, masih juga tercium dan disuruh turun. Tanpa
ampun,
laki-laki tadi dibantai.
Agar serangan ke perkampungan Madura terkendali, para komando warga
Dayak
menggunakan Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan, di
hotel
itulah pasukan diberi ramuan ilmu kekebalan oleh para panglima. Saat
digerebek, aparat menemukan beberapa kepala manusia. Tapi, para
tokohnya
sempat meloloskan diri. Kini, di depan hotel bertingkat dua itu
dibentangkan
police line.
Berada di atas angin, pasukan Dayak lalu melebarkan serangan ke
berbagai
kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Sasaran pertama, Samuda, ibu kota
Kecamatann Mentaya Hilir Selatan, dan Parebok yang banyak dihuni warga
Madura. Samuda dan Parebok jadi sasaran setelah Sampit karena banyak
tokoh
Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok juga ada Ponpes Libasu Taqwa.
Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini juga dijadikan tempat berlindung
banyak warga Madura.
Warga Madura di kecamatan lain pun tidak lepas dari buruan. Misalnya,
Kuala
Kuayan. Ratusan korban jatuh dengan kepala terpenggal. Kini, warga
Dayak
praktis menguasai hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kecuali
Pangkalan Bun. Kota ini aman karena hampir tak ada warga Madura yang
tingga
di semua kota kecamatan. Penghuninya, saat itu, banyak yang lari
myelamatkan diri ke hutan, +++++ baik Palangkaraya, Sampit, maupun
Samuda.
..........



+++++++++++++++++++
Sebenarnya, jauh sebelum kasus Sampit mencuat, sekitar 118 kilometer
ke
arah
Palangkaraya, tepatnya di Desa Kerengpangi, Kecamatan Katingan Hilir
terjadi
pembantaian tokoh pemuda Dayak setempat. Namanya, Sendung. Tepatnya,
di
lokalisasi WTS Kerengpangi.
Pada dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB (16 Desember 2000). Sendung
datang
ke lokasi perjudian. Saat itu ,ada tiga warga Madura Mat Sura, Kacung
dan
Mat Suki sedang main judi dadu gurak.
Sebenarnya, antara Sendung dan ketiga warga Madura itu sudah saling
kenal.
Sendung dikenal sebagai tokoh pemuda Dayak yang disegani. Sedangkan
tiga
Madura tadi dikenal sebagai penguasa lokalisasi.
Tiba-tiba, tangan Sendung menyenggol badan Mat Sura. Entah dipengaruhi
minuman atau balas dendam, Mat Sura tidak terima. Cekcok lantas tak
bisa
dihindari. Emil, pemuda Dayak, saat itu berusaha melerai. Tapi, tak
dihiraukan. Mereka tetap saja cek cok. Kacung, salah satu teman Mat
Sura
pulang ke rumah sekitar 75 meter dari lokasi semula untuk mengambil
celurit.
Begitu sampai, tanpa ba bi bu lagi, Kacung membacokan ke tubuh
Sendung.
Sendung yang juga dikenal jagoan berusaha melawan. Tapi, karena
dikoroyok, Sendung pun tersungkur dengan tiga luka bacok. Dada, leher
dan
perut. Sedangkan warga sekitarnya takut melerai. Versi keluarga
Sendung
berbeda. Kepada Jawa Pos, diceritakan bahwa saat itu, Sendung dijemput
beberapa orang ke lokalisasi. Kabarnya, ada judi. Sendung yang selama
ini
getol melarang perjudian dadu gurak di wilayahnya datang. Tapi, Dewi,
istri
Sendung sudah membaca sepertinya ada rekayasa penciptaan suasana agar
ada
bentrokan. "Makanya, begitu warga Madura tersenggol langsung cek cok,"
jelas
salah satu keluarga Sendung.
Esoknya, warga Dayak geger. Mereka pun ramai-ramai mencari tiga warga
Madura
yang membunuh Sendung. Tapi, ketiganya sudah lolos. Untuk melampiaskan
kekesalnya, warga dayak membakari rumah karaoke, tempat perjudian,
warung
makan dan rumah. Saat itu, ada sekitar 16 rumah ludes dilalap api.
Lokalisasi itu sebetulnya milik Akong. Namun, pengelolaannya
sehari-hari
dipercayakan kepada tiga warga Madura tesebut. Kini, Akong melarikan
diri
setelah terjadi insiden itu. Warga makin dongkol karena polisi
>sepertinya
membiarkan pelakunya lolos. Bahkan, mereka mendengar kabar kalau sudah
abur
ke Pulau Madura. Kedongkolan warga Dayak makin memuncak karena itu
bukan
kasus yang pertama.
Setiap kali, ada warga Madura membunuh warga Dayak selalu lolos dan
lari
ke
Madura. Kalau pun masuk bui tidak lama. Kawan atau keluarganya bisa
menebus.
"Makanya, kekesalan warga Dayak sudah memuncak," kata tokoh Dayak
Sabran
Akhmad kepada Jawa Pos.
rengpanggi sebenarnya hanya dusun kecil di tepi jalan raya Tjilik
Riwut,
Palangkaraya Sampit. Tepatnya, di kilometer 99 jalan Cilik Riwut.
Tapi,
setelah ditemukan tambang emas sekitar tahun 1980-an,
dusun yang sepi mulai menggeliat. Warga luar berdatangan mendulang
emas.
Tidak terkecuali warga
Madura. Apalagi, sekitar tahun 1996 Sjamsul Nursalim lewat PT Ampahit
Mas
Perdana membuka pendulangan emas secara besar-besran.
Dusun yang semula tenang menjadi ramai dengan hadirnya pasar, toko,
karaoke,
mini market, bar, yang dilengkapi lokalisasi WTS. Seiring bertambahnya
warga
yang mendulung emas, angka kriminalitas makin meningkat. Tiada hari
tanpa
perkelahian. Umumnya melibatkan warga Dayak dan Madura. Bahkan,
Perengpangi
biasa disebut Texas-nya Kalteng. Pencurian, perkelahian, perampokan,
perebutan tanah adalah hal bisa di Krengpangi.
Terhadap kenyataan itu, aparat keamanan seakan tak berdaya. Jarang
warga
Madura yang ditangkap akibat tindak kriminalnya. "Kekesalan itu
menjadi
terakumulasi hingga menimbulkan dendam kesumat bagi warga Dayak,"
tandas
Sabran.
Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini
sebagai
Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah
(KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang
merugikan harta dan nyawa orang Dayak.
Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian.
Tapi,
setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. "Paling
tidak
sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama
selalu dilanggar warga Madura," kata Usop saat pertemuan tokoh
masyarakat
Dayak dengan DPRD Kalteng. Bahkan, saat pembuatan jalan
Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit
Batu
tahun 1983. Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh
Dayak
dengan tokoh Madura. Ada satu poin penting dalam perjanjian itu.
Yakni,
Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika
melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali
ada
pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak
berdatangan
ke Kalimantan. "Dokumen itu yanh kini sedang kami cari," tambha Usop.
Tragedi pertumpahan darah di Kalimantan terjadi tahun 1967, pasca G 30
S/PKI. Tragedi itu tak lepas dari ekor G 30 SPKI. Saat itu
pemerintahan
Soeharto menuduh Cina di Kalimantan Barat adalah komunis.
Untuk mengenyahkan Cina komunis, Soeharto menggunakan salah satu etnis
Dayak
untuk membunuh Cina yang komunis dan pendukung Pasukan Gerilyawan
Serawak
(PGRS). Korban pun berjatuhan sebanyak 300 orang. Selebihnya, ratusan
ribu
Cina diungsikan. Setelah itu, bentrokan Dayak tidak dengan Cina, tapi
dengan
Madura. Dayak menuding perilaku warga Madura tak terpuji. Suka
kekerasan,
dan sering melakukan tindakan kriminal yang banyak merugikan warga
Dayak.
Bentrokan kecil dan besar antara dayak dan Madura di Kalimantan Tengah
sejak
1983 sudah terhitung 15 kali. Tapi, selalu berakhir perdamaian.
Sebelum
kasus Kerengpangi dan Sampit, bentrokan besar terjadi tahun 1996 dan
1997
di
Sangauleudo di Kalbar maupun Sambas. Dimana dua warga dayak ditusuk
am,pai
sebnayka 2000 warga Madura diungsikan. (bh)
tewas arang Madura. Kerusuhan pun pecah, sedikitnya 1000 korban
tewas.
Dan

'Kuluk,... Kuluk,... Kuluk...',
Esoknya Semua Tanpa Kepala


BOHONG, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura
yang
tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit.
Hal
ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517.
Dalam
pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa
melihat
puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah
bangunan
rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya
yang
hangus.
Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT
Sempagan
Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada
puluhan
yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan
tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. "Ini baru yang di sungai,
belum
yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak
kurang
dari 200 mayat," katanya.
Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat
yang
bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan
batu
koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk
dimakamkan,
kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari
kejaran
dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur.
Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi
membedakan
siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura,
tapi
kini
semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya
ditebas
lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong.
Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya
lagi.
Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan
senjatanya
disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan
tidak
ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun
tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali
dengan suara kuluk,... kuluk,... kuluk,... sebentar kemudian pasukan
Dayak
muncul dan membunuhi warga Madura.
Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh.
Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara
uluk..., kuluk..., sambung-menyambung muncul dari segala penjuru.
Esoknya
warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi.
Parebuk
Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56),
warga
yang
banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada
di
sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. "Saat ini di
sana
yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak," kata Sopian.
Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai
engatakan,
dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup
lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat
beberapa
warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas
melawan Dayak di Semuda. "Kalau masih hidup seharusnya perjalanan
mereka
tidak lebih dari satu atau dua hari saja," kata Sopian.
Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku
masih
dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp
pengungsian
di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga
Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah
ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.
Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan
geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi
orang
Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman.
Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang
Tengah
semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi
kantor
Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50
Dayak,
Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong
tapi
justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ.
Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang
Polsek
ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300
m
sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia
menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia
pun
bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya.
Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada
peristiwa
yang
sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit.
Sebanyak
4
truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas
dengan
mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2,
akhirnya
dibantai habis Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan dayak
orang Madura disuruh turun dan dibantai. "Jika tiap truk berisi 50
pengungsi
berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai," kata Choiri.
Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak-anak.
egitu
jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa,
justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh
Brimob
> dai Jakarta.
Liar
Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal
di
Jl.
Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini
ikut
pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya,
mengapa
orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang.
Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang
Madura.
Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan
atau
mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia
disuruh
minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya
diolesi
dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud
anjing
dan akhirnya harus diburu dan dibunuh.
Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini
menurut
Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga
mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka
kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah
panglima
perang suku Dayak. (R Dewanto Nusantoro)





Jumat, 26 Februari 2010


2012, Masa Paling Sakral dan Berbahaya?
9
04
2009

sumber dari kompas.com


Heboh ramalan tahun 2012 sudah berlangsung lama, tetapi baru meluas sekitar 10 tahun terakhir. Penelitian tentang hal itu dilakukan banyak ahli dari berbagai bidang ilmu dan puluhan buku sudah diterbitkan. Observasi astronomi sangat akurat selama berabad-abad para astronom genius Maya memberi pertanda, tanggal 21/12/2012 akan menjadi kelahiran zaman baru. Masa itu paling sakral sekaligus paling berbahaya dalam sejarah Bumi.

Menurut Laurence E Joseph dalam Apocalypse 2012, tanggal 21/12/2012 merupakan titik balik musim dingin tahunan ketika belahan Utara Bumi berada di titik terjauh dari Matahari sehingga siang sangat pendek. Pada tanggal itu, tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya, seperti diyakini bangsa Maya, akan menutupi pemandangan pusat Bimasakti dari Bumi. Para astronom Maya Kuno menganggap titik pusat ini sebagai rahim Bimasakti.

Keyakinan itu didukung banyak pembuktian para astronom kontemporer bahwa di situlah tempat terciptanya bintang-bintang galaksi. Saat ini, sejumlah lembaga penelitian ilmiah mengenai atmosfer, ruang angkasa, dan teknologi di Barat menduga ada lubang hitam tepat di pusat itu yang menyedot massa, energi, dan waktu, yang menjadi bahan baku penciptaan bintang masa depan. Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke Bumi dari titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012, tepatnya pukul 11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada rotasi Bumi.

Bangsa Maya yakin, sesingkat apa pun terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak keseimbangan mekanisme vital Bumi dan tubuh semua makhluk, termasuk manusia.

Memaknai ramalan Ada yang menginterpretasikan 21/12/2012 sebagai ”kiamat”, tetapi banyak pula yang memaknainya secara kontemplatif.

Pakar psikologi transpersonal dari AS, Dr Beth Hedva, yang ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, mengibaratkan Ibu Bumi sudah sangat dekat waktunya melahirkan.

Proses kelahiran tak hanya diiringi darah dan penderitaan, tetapi juga harapan dan janji. ”Selalu terjadi kontraksi,” ujar Beth Hedva. Wujudnya perang, kekejian, dan bencana akibat penghancuran lingkungan dan perusakan atmosfer Bumi—dampak kebencian dan keserakahan manusia—serta bencana yang disebabkan faktor manusia dan nonmanusia.

Dalam antologi The Mystery 2012: Predictions, Prophecies & Possibilities (2007), ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan spiritualitas, Gregg Braden, menyatakan, yang terpenting bukan apa yang akan terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.

Ahli fisika biologi dan ahli kanker pada Organisasi Kesehatan Dunia, Carl Johan Calleman, peneliti Kalender Maya, mengingatkan pada transformasi kesadaran manusia.

Robert K Stiler, Direktur Program Kajian Amerika Latin Universitas Stetson di DeLand, Florida, AS, menambahkan, ”Apa pun maknanya, bangsa Maya mengajak kita merengkuh hidup berkualitas dan kesehatan planet Bumi.”

Tahun 2012 adalah tahun berjaga dengan menyadari teknologi saja tak menjamin keberlangsungan Bumi. Begitu diingatkan José Argüelles, PhD, ahli Kalender Maya dan pakar sejarah seni dan estetika dari Universitas Chicago.

”Kalau kita tidak berjaga, planet Bumi akan hancur secara alamiah karena sekarang sudah jauh dari seimbang,” ia menambahkan. ”

Pikiran manusia secara massal dikontrol dan dimanipulasi pemerintah dan institusi-institusi yang menjadi faktor kunci kehidupan modern.” Christine Page, dokter medis, ahli homeopati dan kesehatan holistik, menjelaskan, tanggapan pada zaman baru sangat tergantung pada kemampuan memahami kesalingterkaitan dan menghargai Ibu Bumi. ”

Alam dan semua makhluk hidup di Bumi adalah bagian diri kita yang harus diperlakukan penuh martabat, penghargaan, dan cinta,” ujarnya.

Jadi, pilihan ada di tangan manusia: membiarkan planet Bumi hancur atau melanjutkan evolusinya. Mari kita renungkan….

Selasa, 16 Februari 2010


Urip Achmad Rijanto bin Soekotjo, (lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 6 Mei 1957 – meninggal di Jakarta, 4 Agustus 2009 pada umur 52 tahun)[1] atau lebih populer sebagai Mbah Surip, adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia populer karena tawanya dan gayanya yang unik, dan karena lagu Tak Gendong dari album tahun 2003-nya yang juga berjudul Tak Gendong.

Mbah Surip pernah mendapatkan penghargaan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori menyanyi terlama. Ia pernah ikut membintangi beberapa film dan beberapa kali pula tampil di televisi.[2] Sebelum menjadi seniman, Mbah Surip mengaku pernah menjalani berbagai macam profesi.

Mbah Surip dikenal dengan pengakuannya di media massa yang sering terdengar bercanda. Dia mengaku pernah bekerja di bidang pengeboran minyak serta tambang berlian. Dia juga mengklaim memiliki gelar Doktorandus, Insinyur, dan MBA, serta pernah mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California. Menurut Mbah Surip, dia menciptakan lagu Tak Gendong saat berada di Amerika Serikat, bertemakan kerjasama saling bahu membahu dan belajar salah. [3]



Urip adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dari Sukotjo (alm.) dan Rasminah (alm.) yang beserta keluarga besarnya tinggal di Jalan Magersari Gang Buntu, kelurahan Magersari Mojokerto, Jawa Timur. Kehidupan masa kecilnya tergolong sulit karena dia harus bekerja membantu orang tuanya yang berjualan kikil sejak kecil. Dia sempat bekerja sebagai pedagang asongan, menjual antara lain es lilin dan kacang goreng keliling kampungnya. Walaupun penuh perjuangan, dia menyelesaikan sekolahnya, antara lain di SDN Karang Tengah II (1970), Sekolah Teknik Pasna Wiyata (1974), kemudian STM Brawijaya (1977). Dia bahkan menyelesaikan kuliah di Fakultas Teknik Mesin Universitas Sunan Giri Cabang Mojokerto (1979).



Setelah lulus kuliah, Urip menikah dengan Minuk Sulistyowati dan dikaruniai empat anak, antara lain Tita, Farid (yang kemudian menjadi manager Urip di Jakarta), Krisna, dan Ivo. Meski sudah memiliki empat anak, saat itu Urip masih belum memiliki pekerjaan tetap. Urip sempat bekerja sebagai tukang sobek karcis di bioskop Indra di daerah Alun-alun Kota Mojokerto dan juga di bioskop Indra di daerah, yang sekarang sudah tutup. Pada awal tahun 80-an, Urip memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Diduga bahwa karena Urip pergi merantau terlalu lama, istrinya yang berada di Mojokerto akhirnya memutuskan untuk bercerai dengannya dan menikah dengan lelaki lain. Setelah perceraian tersebut, Urip memutuskan untuk tetap menduda, tidak menikah lagi bahkan hingga hari kematiannya yang mendadak.


Mbah Surip tutup usia pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2009 pukul 10.30 WIB pagi, di puncak kepopulerannya di kancah musik Indonesia. Dia meninggal dunia akibat gagal jantung dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusdikkes TNI AD, Kramat Jati, Jakarta Timur.[5] Menurut bagian rekam medik RS Pusdikkes, jenazah Mbah Surip sempat berada selama satu jam di RS Pusdikkes.[6] Jenazah kemudian langsung diambil oleh kerabat yang membawanya yaitu pelawak Mamiek Prakoso. Menurut berita, serangan jantung tersebut disebabkan kebiasaan meminum kopi dan merokok Mbah Surip yang berat. Kejadian tersebut diberitakan karena Mbah Surip tiba-tiba meminum air dingin pada suatu kesempatan, sehingga menyebabkan jantungnya bekerja labil.

Jenazah Mbah Surip dimakamkan pada hari yang sama, Selasa malam tanggal 4 Agustus 2009, di Pemakaman Keluarga W.S. Rendra, di Depok, Jawa Barat yang lokasinya berdekatan dengan lokasi Bengkel Teater Rendra di Kampung Rawa RT 002/05 Cipayung Jaya, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. [7]


Guns N' Roses (GNR) adalah kelompok musik hard rock dari Amerika Serikat yang mulai terkenal di akhir 1980-an dan awal 1990-an. Mereka pertama melejit lewat album 1987 Appetite for Destruction dan kemudian menerbitkan dua album berbarengan Use Your Illusion I dan Use Your Illusion II.

Nirvana adalah nama sebuah grup band dari Seattle, Amerika Serikat yang terkenal dengan aliran grunge. Band ini memiliki banyak pengikut di Indonesia terutama komunitas musik underground.

Nirvana terdiri dari Krist Novoselic, Kurt Cobain, Dave Grohl, band ini bubar setelah Kurt Cobain bunuh diri pada tahun 1994.

Kurt Donald Cobain (20 Februari 1967 – ± 5 April 1994) adalah penyanyi, penulis lagu dan gitaris dalam band grunge dari Seattle, Nirvana. Dengan sukses band ini, Cobain menjadi selebriti nasional dan internasional, suatu posisi yang disandangnya dengan berat hati.

Pada 1991, melejitnya lagu Cobain yang paling terkenal, Smells Like Teen Spirit, menandai bermulanya perubahan besar dalam musik pop dari jenis musik yang populer di tahun 1980-an seperti glam metal, arena rock, dan dance-pop, kepada grunge dan alternative rock.

Selain itu lagu-lagu tulisan Cobain lainnya misalnya About a Girl, Come as You Are, In Bloom, Lithium, Heart-Shaped Box, All Apologies, dan Rape Me.

Cobain menikah dengan Courtney Love pada 24 Februari 1992 di Waikiki Beach, Hawaii. Pada 18 Agustus, Frances Bean Cobain dilahirkan.

Pada 1 Maret 1994, setelah konser di München, Jerman, Cobain didiagnosa dengan bronchitis dan laryngitis yang parah. Ia diterbangkan ke Roma hari berikutnya untuk menjalani pengobatan, dan istrinya bergabung pada 3 Maret.

Pagi berikutnya, Love bangun dan menemukan Cobain sudah overdose dengan paduan dari champagne dan Rohypnol. Ia dilarikan ke rumah sakit dan setelah lima hari di sana diperbolehkan pulang. Karena masalah drugs ini, Cobain dimasukkan ke panti rehabilitasi pada tanggal 30 Maret. Pada malam 1 April, Cobain keluar untuk merokok dan kemudian kabur dari panti tersebut dengan memanjat pagar. Ia kemudian pergi ke Seattle dan menghilang.

Pada tanggal 3 April, Love menghubungi seorang private investigator, Tom Grant, dan menyewanya untuk menemukan Cobain. Pada tanggal 8 April 1994, jenazah Cobain ditemukan di sebuah ruangan di atas garasi rumahnya di Lake Washington oleh pegawai Veca Electric bernama Gary Smith. Otopsi kemudian memperkirakan Cobain tewas pada 5 April 1994.


Dave Grohl (lahir 14 Januari 1969 di Warren, Ohio, Amerika Serikat), nama lengkap David Eric Grohl, adalah musisi rock yang pertama melejit sebagai drummer kelompok Nirvana. Setelah Nirvana bubar karena vokalis Kurt Cobain meninggal, ia membentuk Foo Fighters di mana ia memainkan gitar dan menjadi vokalis utama. Selain itu Dave Grohl juga memiliki proyek sampingan PROBOT.